
SAMIN-NEWS.com, PATI – Nilai-nilai sejarah untuk saat ini merupakan proses transformasi dari masa lalu. Dalam riwayat perjalanan itu, peradaban manusia bisa dipelajari melalui sejarah. Guna diterapkan dengan mengacu relevansinya untuk masa kini. Peradaban negara hingga peradaban Islam punya sejarah.
Tokoh bangsa Indonesia seperti yang dilontarkan oleh Soekarno yaitu “Jas Merah” jangan melupakan sejarah. Dimana untuk peradaban Islam juga punya sejarah untuk dipelajari. Hal ini tentu punya maksud tujuan, diharapkan mampu membangkitkan pergerakan pada kala itu.
“Kalau dalam Islam ada pelajaran Tarikh (secara harfiah sejarah). Ini untuk membangkitkan dan memotivasi pergerakan Islam juga rentetan alurnya dari sejarah,” kata Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah III Provinsi Jawa Tengah, Sunoto.
Adapun hal ini dipaparkan terkait dengan wacana isu penghapusan mata pelajaran Sejarah dari kurikulum nasional. Padahal, secara fundamental atau mendasar nilai sejarah tidak bisa dilepaskan dari tatanan kehidupan. Untuk masa lalu, sejarah dimaksudkan untuk masa kini. Sementara saat ini, akan terdokumentasi dalam memori nanti dimasa depan.
Peradaban bangsa negara maupun agama senantiasa demikian. Punya latar belakang yang dijadikan bahan literatur pembelajaran generasi muda. Oleh karena itu, jika mapel Sejarah diwacanakan dihapus dirasa tidak seperti itu. Dimana sudah ditegaskan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim.
“Penghapusan sejarah dari kurikulum itu sudah diluruskan oleh Mendikbud. Sebenarnya tidak demikian. Wacana tersebut dari ruang diskusi, lalu berkembang secara luas dan tidak terkontrol,” tambahnya.
Pentingnya nilai sejarah dalam bangsa dan negara bahkan kelompok agama punya posisi untuk generasi saat ini. Bagaimana bisa mapel sejarah akan benar-benar dihapus. Sementara keberadaan Kemunculan wacana tersebut berasal dari ruang diskusi, yang masih perlu kajian mendalam.